Tuesday, July 17, 2012

Rumah Bunga Jl. Teuku Cik Ditiro

Semasa kuliah ... setiap hari berangkat kuliah saya pasti melintas di Jalan Teuku Cik Ditiro-Menteng ..

Dan tepat ketika lampu merah menyala ... pasti saya akan menengok kekiri dan menyegarkan mata dengan memandangi rumah retro dengan kebun bunga yang cantik bernomor 62



Di malam hari keindahannya tak redup oleh gelapnya malam ... lampu taman berwarna kuning akan menyala di malam hari .. membuat rumah ini semakin cantik ...


Tapi keindahan itu kini tak bisa saya nikmati lagi .. setelah beberapa lama tak melintas jalan itu ... ternyata ... rumah cantik itu telah dibongkar habis hampir 50% dan ada plang tanda disegel dipagarnya ...




Bentuk rumah sudah tak terlihat jelas .. taman yang dulu begitu rapih dan cantik, kini menjadi hancur berantakan tak terurus ...  sedih saya melihatnya ...

Rumah yang begitu cantik ... kenapa ada orang yang tega membongkar rumah secantik itu .. yang merupakan Cagar Budaya pula ...

Saking penasaran .. kemudian saya browsing mencari tahu apa yang terjadi ... ternyata pembongkaran rumah itu sudah menjadi pembicaraan dimana-mana .. berikut saya kutip salah satu dari beberapa artikel yang saya baca ...

http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1510/Rumah.Cantik.Menteng.Dibongkar



Lisensi Arsitek Rumah Cantik Terancam Dicabut
Penulis : Riana Afifah | Rabu, 14 Desember 2011 | 12:21 WIB
Dibaca: 44
|
Share:
JP/Ricky YudhistiraRumah di Jalan Cik Di Tiro 62, Menteng, Jakarta Pusat yang disebut-sebut sebagai salah satu cagar budaya di Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Pembongkaran rumah di Jalan Cik Dik Tiro, Nomor 62, amat disayangkan banyak pihak, terutama para arsitek yang sangat peduli pada bangunan tua dan memiliki nilai sejarah.
Saya tidak yakin kalau arsitek tersebut tidak tahu bahwa bangunan itu dilindungi. Tapi, saya juga heran semuanya serba tidak jelas, siapa pembelinya, siapa arsiteknya.
-- Herpramtama
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Herpramtama menyesalkan tindakan dari arsitek yang memilih membongkar bangunan tersebut.
"Sebagai arsitek, harusnya dia memeriksa terlebih dahulu. Apalagi bangunan itu ada di kawasan Menteng yang merupakan kawasan konservasi," kata Herpramtama dalam diskusi Obrolan Langsat tentang Rumah Cantik di Rumah Langsat, Selasa (13/12/2011) malam.
Bahkan, dia mengungkapkan, arsitek yang terbukti melakukan pembongkaran terhadap bangunan golongan C ini dapat dicabut lisensinya oleh IAI sehingga tidak bisa lagi melakukan pekerjaannya sebagai arsitek. Semestinya, para arsitek sudah paham lokasi-lokasi yang merupakan kawasan konservasi.
"Saya tidak yakin kalau arsitek tersebut tidak tahu bahwa bangunan itu dilindungi. Tapi, saya juga heran semuanya serba tidak jelas, siapa pembelinya, siapa arsiteknya," ujar Herpramtama.
Sementara itu, arsitek senior Indonesia, Yori Antar, menjelaskan, sebenarnya bangunan dengan golongan C ini dapat diubah sesuka hati, hanya saja ciri bangunan khas kolonial Menteng tidak boleh hilang. Desain bangunan baru pun harus dikonsultasikan terlebih dahulu oleh pihak terkait apakah sudah sesuai atau belum.
"Golongan C itu boleh diapakan saja. Tapi, saat dibangun baru, bangunannya tetap harus berciri kolonial. Tidak boleh tiba-tiba pake gaya klasisisme, victorian, atau gaya seperti rumah-rumah di Milan," ujar Yori.
Hal ini yang kerap dikeluhkan para arsitek dan para pemilik rumah di kawasan Menteng karena pemugarannya terbilang sulit dan memakan waktu lama. Salah seorang arsitek yang pernah merenovasi salah satu rumah di Menteng, Teguh, mengungkapkan, lamanya proses pemugaran itu karena desain yang berkali-kali ditolak lantaran tidak sesuai dengan ciri semestinya.
"Selama setahun, saya bolak-balik mencari kesepakatan masalah desain. Eh, rumah cantik ini kok gampang aja dibongkar. Padahal, bangunan yang saya kerjakan waktu itu juga golongan C," katanya.
Editor :
Hertanto Soebijoto



--------------------------------

dan sebuah cerita tentang si Ibu pemilik rumah sebelum dijual :


Ternyata Ibu Sari Shudiono Pemilik “Rumah Cantik Menteng” Pernah Mendapat Penghargaan dari Surjadi Soedirdja Gubernur DKI.

REP | 30 November 2011 | 16:28Dibaca: 938   Komentar: 14   2 dari 3 Kompasianer menilai menarik
Senyum mengembang saat ibu Sari Shudiono, pemilik Rumah Cantik Menteng memperoleh penghargaan dari seorang Gubernur DKI kala itu ( 1993 ) Surjadi Soedirdja. Rumahnya yang indah sekali di pojokan jalan Cik Ditiro dan Mangkunsarkoro kawasan Menteng itu dianggap sebagai rumah pelestarian budaya. Si pemilik, dianggap pula telah berhasil melestarikan rumah bagi sejarah Jakarta.  Penghargaan muncul lewat Dinas Kebudayan dan Permuseuman DKI pada saat itu - dengan istilah,  “Merawat Rumah Tua dengan Bagus”. Sempat saya ingat dulu, saat bertugas di Balai Kota jalan Merdeka Selatan,  di teras depan kantornya dekat ruang kerja, sang Gubernur berkomentar kepada para wartawan tentang rasa  hormat dan bangganya kepada si pemilik rumah itu.
Di balik haru dan bangga memperoleh penghargaan serupa itu, ternyata rasa was-was menyelimuti ibu dengan lima anak ini.  Bayaran PBB (Pajak Bumi Bangunan) terlalu mahal untuk koceknya yang seorang janda sejak tahun 1973 itu -  sebesar Rp 14 juta setahun.  Kepada media beberapa tahun lalu ibu Sari pernah mengeluh begitu sulit untuk menjual rumah ini, karena persoalan tidak boleh diubahbongkar sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia mulai menempati rumah pojok itu sejak tahun 1958. Bangunan bergaya art deco itu sempat didiami oleh orang Belanda yang kemudian pulang ke negerinya, lalu ditempati lagi oleh orang Swiss.  Suami ibu Sari adalah seorang pengusaha yang mulai memperoleh rumah itu sejak mereka belum menikah, tahun 1955.  Zaman itu rumah-rumah orang Belanda yang mudik kembali ke negeri asalnya, bisa diperoleh oleh bangsa kita, dengan status VB (Vestigingsbewijs)  surat izin tinggal. NV Versluis adalah perusahaan yang biasa mengurus khusus rumh-rumah eks warga Belanda itu.
Tahun ‘80 an  saat pemerintah memberikan peraturan tentang SHM ( Sertifikan Hak Milik) dan HGB ( Hak Guna Bangunn), ibu Sari sudah mengantongi HGB  sejak 1973 tanpa bisa mencapai Sertifikat Hak Milik. Biayanya mahal,  menurutnya saat itu sekitar Rp 60 juta, membuat ia mengurungkan niatnya.
Rumah asri dengan kebun yang indah dan jendela lebar terbuka itu hari ini menjadi pembicaraan di mana-mana. Ibu-ibu yang bekerja di kantor dan di majalah wanita tampak gemas menyesali penghancuran rumah itu. Mereka juga adalah orang-orang yang sempat menikmati pemandangan indah sehari-hari bila melewati jalan di depan rumah itu.  Teman-teman di pemda DKI juga sedari tadi membincangkannya.  Semua prihatin.
Terbesit di hati, untuk ingin tahu lebih lanjut, di mana ibu Sari kini berada?  Konon ia sudah berkursi roda karena menderita sakit tulang. Dan di mana pula anak-anaknya sekarang?  Semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja. Rumah itu beralih kepada siapa  ya -  yang begitu sampai hati menjadikan rumah indah itu kini tinggal kerangka? Saya bermimpi rumah itu dibangun seperti sediakala…., dan sama indahnya.
(dari berbagai sumber).

-----------

Saya berharap rumah cantik itu kembali cantik seperti semula .... 





No comments:

Related Posts with Thumbnails